Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Waspadai Tekanan Geopolitik dan Harga Minyak

- Selasa, 10 Maret 2026 | 03:25 WIB
Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Waspadai Tekanan Geopolitik dan Harga Minyak

PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan Selasa (10/3/2026), berbalik menguat setelah sempat tertekan di hari sebelumnya. Apresiasi ini terjadi seiring dengan pelemahan dolar Amerika Serikat di pasar global, meski sentimen geopolitik dan kekhawatiran atas lonjakan harga minyak dunia masih membayangi pergerakan mata uang domestik.

Data Pergerakan di Awal Sesi

Pada pukul 09.00 WIB, data dari Bloomberg menunjukkan rupiah terapresiasi 0,41% atau setara 70 poin ke level Rp16.879 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS sendiri tercatat melemah 0,34% ke posisi 98,84. Data lain dari Refinitiv mencatat pembukaan yang lebih kuat, di mana rupiah dibuka pada posisi Rp16.830/US$, menguat 0,62% dari penutupan perdagangan Senin.

Pergerakan hari ini menjadi pemulihan setelah tekanan yang cukup signifikan sehari sebelumnya. Pada Senin (9/3/2026), rupiah sempat terjun hingga menyentuh Rp16.990/US$, mendekati ambang psikologis Rp17.000/US$. Meski demikian, tekanan berhasil diredam menjelang penutupan, dengan mata uang nasional berakhir di Rp16.935/US$, atau hanya terdepresiasi 0,21% secara harian.

Proyeksi dan Sentimen Geopolitik yang Membebani

Di tengah penguatan pagi ini, analis tetap mewaspadai potensi tekanan yang bisa kembali muncul. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah berpotensi ditutup melemah di rentang Rp16.950 hingga Rp17.000 per dolar AS.

Menurutnya, sentimen utama yang membebani pasar berasal dari eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang telah memicu kenaikan tajam harga minyak mentah dunia.

“Perkembangan konflik ini bisa menyulut harga minyak ke level tertinggi sejak awal perang Rusia-Ukraina 2022. Iran telah menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi. Kontrol kelompok garis keras yang tetap dominan menunjukkan konflik belum akan mereda dalam waktu dekat,” ungkap Ibrahim.

Faktor Global dan Dampaknya pada APBN

Selain geopolitik, data ekonomi dari China turut diperhatikan pasar. Inflasi konsumen Negeri Tirai Bambu tercatat tumbuh 1,3% pada Februari 2026, melampaui ekspektasi dan menjadi yang tercepat dalam tiga tahun terakhir. Data ini menambah kehati-hatian investor global mengenai arah kebijakan moneter dunia.

Di dalam negeri, fokus beralih pada dampak fiskal dari harga minyak yang melambung. Saat ini, harga minyak dunia telah menyentuh level US$92 per barel, tertinggi sejak 2020 dan jauh melampaui asumsi dalam APBN 2026 yang hanya US$70 per barel.

“Lonjakan harga minyak ini akan menambah defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun. Jika harga minyak terus naik mendekati atau melampaui US$ 100 per barel, dampaknya bisa signifikan, mendorong defisit APBN terhadap PDB hampir mencapai 4%,” jelas Ibrahim lebih lanjut.

Dengan demikian, pergerakan rupiah ke depan diperkirakan akan tetap fluktuatif, terjepit antara pelemahan dolar AS secara global dan beban sentimen negatif dari risiko geopolitik serta tekanan fiskal domestik. Pasar akan terus memantau setiap perkembangan dari kedua front tersebut untuk mencari arah yang lebih jelas.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar