PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengklaim negaranya telah menyiapkan "banyak kejutan" untuk Amerika Serikat. Pernyataan tegas itu disampaikan melalui media sosial X pada Senin (9/3), sebagai respons atas operasi militer AS yang diberi nama sandi "Epic Fury". Araghchi menilai operasi tersebut justru merupakan sebuah kesalahan strategis yang telah memicu gejolak ekonomi, termasuk melonjaknya harga minyak dunia.
Kritik terhadap Operasi Militer AS
Dalam unggahannya, diplomat senior Iran itu tak hanya menanggapi, tetapi juga secara terbuka mengejek operasi yang dilancarkan Washington. Araghchi dengan sarkastis menyebut "Operation Epic Fury" sebagai "Operation Epic Mistake" atau Operasi Kesalahan Epik. Menurut analisisnya, sembilan hari setelah operasi dimulai, dampaknya justru kontraproduktif bagi AS.
"Harga minyak naik menjadi dua kali lipat sementara semua komoditas melonjak tajam," tulisnya dalam akun X.
Kesiapan dan Ancaman Balasan Iran
Araghchi lebih lanjut mengungkapkan bahwa Iran telah mengantisipasi kemungkinan serangan AS terhadap aset-aset vitalnya, termasuk situs energi dan nuklir. Ia menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam dan telah mempersiapkan respons yang tak terduga.
"Kami tahu AS sedang merencanakan serangan terhadap situs-situs minyak dan nuklir kami dengan harapan dapat menahan guncangan inflasi besar-besaran," ujarnya. "Iran sepenuhnya siap. Dan kami juga memiliki banyak kejutan yang telah disiapkan," tegas Araghchi menambahkan.
Latar Belakang Eskalasi Konflik
Ketegangan ini berakar dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap beberapa kota di Iran pada akhir Februari lalu, yang dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi. Iran pun tak tinggal diam dan membalas dengan meluncurkan serangan rudal serta drone ke sejumlah pangkalan militer kedua negara tersebut di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi militer yang berlarut-larut ini telah memicu kekhawatiran mendalam di pasar global. Analis energi mengkhawatirkan gangguan pada jalur pasokan minyak, khususnya yang melalui Selat Hormuz—jalur laut paling vital di dunia. Ketegangan di titik krusial itu berpotensi memperlebar dampak konflik, tidak hanya secara geopolitik tetapi juga pada stabilitas ekonomi internasional.
Artikel Terkait
Skrining Kesehatan Gratis Ungkap 700 Ribu Anak Alami Gejala Kecemasan dan Depresi
Kejaksaan Tinggi Sulut Segera Tetapkan Tersangka Kasus Korupsi Tambang Emas Ratatotok
Gubernur Banten Targetkan Perbaikan Tol Tamer Rampung H-10 Lebaran 2026
DPR RI Resmi Buka Masa Persidangan IV Tahun 2025-2026