Dua Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Arab Imbas Ketegangan Iran di Selat Hormuz

- Minggu, 19 April 2026 | 09:00 WIB
Dua Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Arab Imbas Ketegangan Iran di Selat Hormuz

PARADAPOS.COM - Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di perairan Teluk Arab, belum dapat melintasi Selat Hormuz yang tengah memanas akibat ketegangan geopolitik. Kondisi ini disampaikan oleh perusahaan pada Minggu (19/4/2026), menyusul pernyataan otoritas Iran yang kembali mengambil alih kendali penuh atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Kapal Tertahan, Keselamatan Jadi Prioritas

Melalui penjelasan resmi dari Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, dikabarkan bahwa kedua kapal bernama Pertamina Pride dan Gamsunoro masih berada di lokasi yang aman di Teluk Arab. Situasi di Selat Hormuz yang dinamis dan belum stabil membuat perusahaan memutuskan untuk menahan laju kapal-kapalnya.

Vega menegaskan, pihaknya terus memantau perkembangan dengan cermat. "Kedua kapal PIS yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz," tuturnya di Jakarta, Minggu (19/4/2026).

Koordinasi intensif dengan berbagai kementerian dan otoritas terkait terus dilakukan. Di balik layar, tim logistik dan keamanan maritim PIS tengah menyusun berbagai skenario dan rencana pelayaran alternatif yang paling aman.

“Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya,” tegas Vega. Pernyataan ini menggarisbawahi prinsip kehati-hatian yang diterapkan dalam menghadapi ketidakpastian di lapangan.

Latar Belakang Ketegangan di Selat Hormuz

Keputusan untuk menahan kapal ini bukan tanpa alasan. Situasi berubah secara signifikan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan pada Sabtu (18/4/2026). Otoritas militer Iran menyatakan telah mengambil alih kembali kendali operasional Selat Hormuz.

Komando gabungan IRGC, seperti dikutip kantor berita Tasnim, menyampaikan posisi tegas mereka. “Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya, dan jalur perairan strategis itu kini berada di bawah pengelolaan dan kendali ketat angkatan bersenjata,” jelasnya.

Lebih lanjut, IRGC menyatakan bahwa pengawasan ketat akan terus diberlakukan. Kondisi ini, menurut mereka, akan bertahan hingga Amerika Serikat memenuhi tuntutan tertentu terkait kebebasan pergerakan kapal yang berhubungan dengan Iran.

Menunggu Kondisi yang Lebih Kondusif

Dengan kompleksnya situasi keamanan di sana, PIS tampaknya memilih untuk bersikap menunggu dan melihat. Perusahaan mengandalkan informasi dari jaringan diplomatik dan maritim internasional untuk membaca arah perkembangan.

“Kami berharap kondisi di Selat Hormuz segera mereda sehingga kapal-kapal Pertamina bisa melanjutkan pelayaran dengan aman,” ungkap Vega Pita. Harapan ini merepresentasikan keinginan bukan hanya dari perusahaan, tetapi juga dari seluruh awak kapal dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan muatan kapal tersebut.

Insiden ini menyoroti kembali betapa rentannya rantai pasok energi global terhadap gejolak di titik-titik choke point seperti Selat Hormuz. Keputusan operasional yang diambil PIS mencerminkan pendekatan berbasis risiko yang prudent, mengutamakan aspek keselamatan di atas pertimbangan lain dalam situasi yang belum jelas.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar