Presiden Iran Bantah Klaim Trump soal Perpecahan Internal di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

- Kamis, 23 April 2026 | 23:50 WIB
Presiden Iran Bantah Klaim Trump soal Perpecahan Internal di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
PARADAPOS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai adanya perpecahan internal di negaranya. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional pasca serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu, yang memicu serangan balasan Iran dan pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz. Pezeshkian menegaskan persatuan nasional yang kokoh, sementara Trump mengklaim Washington memegang kendali penuh atas selat strategis tersebut.

Bantahan Pezeshkian: “Tidak Ada Kelompok Garis Keras atau Moderat”

Dalam unggahan di media sosial X pada Jumat, 24 April 2026, Pezeshkian menepis narasi yang digaungkan oleh Trump. Ia menegaskan bahwa spekulasi mengenai adanya faksi garis keras dan moderat di Iran tidaklah berdasar. “Tidak ada kelompok garis keras atau moderat di Iran. Kita semua adalah warga Iran dan revolusioner,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menekankan solidaritas yang tak tergoyahkan antara rakyat dan pemerintah. “Ada persatuan yang kokoh seperti baja antara rakyat dan negara,” imbuh Pezeshkian. Presiden Iran itu juga bersumpah bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. “Satu Tuhan, satu bangsa, satu pemimpin, dan satu jalan, jalan kemenangan Iran tercinta,” tuturnya, seraya menegaskan bahwa Teheran akan membuat “penyerang menyesali tindakannya.”

Klaim Trump: Kendali Penuh atas Selat Hormuz

Sebelumnya, Trump melontarkan pernyataan kontroversial melalui platform Truth Social. Ia mengklaim bahwa Iran sedang dilanda konflik internal yang sengit. Menurutnya, kelompok garis keras di Iran “kalah telak di medan perang,” sementara kelompok moderat, meski “tidak terlalu moderat,” disebutnya “mendapatkan rasa hormat.” "Iran mengalami kesulitan besar untuk menentukan siapa pemimpin mereka," klaim Trump. Tak hanya soal politik dalam negeri Iran, Trump juga menyoroti kendali atas Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa Washington mempertahankan "kendali penuh" atas jalur perairan vital tersebut. Ia bahkan menyebut selat itu "tertutup rapat" sampai Iran "mampu membuat kesepakatan," dan menambahkan bahwa tidak ada satu kapal pun yang bisa melintas tanpa persetujuan Angkatan Laut AS.

Eskalasi Regional Pasca Serangan Februari

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat drastis setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan dan melukai ribuan orang. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan yang menyasar Israel dan negara-negara regional yang menjadi tuan rumah aset militer AS. Selain itu, Iran mulai membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, sebuah langkah yang langsung memicu reaksi keras dari Washington. Di tengah situasi yang memanas, pada hari Selasa lalu, Trump memperpanjang gencatan senjata dua minggu dengan Iran—hanya sehari sebelum masa gencatan tersebut dijadwalkan berakhir.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar