PARADAPOS.COM - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah mengeluarkan perintah untuk memulihkan akses internet di negara itu ke tingkat normal, seperti sebelum gelombang protes nasional yang pecah pada Januari lalu. Keputusan ini diumumkan pada Senin, 25 Mei 2026, melalui laporan dari Mehr News Agency, menandai perubahan haluan yang signifikan setelah berbulan-bulan pembatasan komunikasi yang ketat di tengah kerusuhan yang meluas.
Latar Belakang Pembatasan
Demonstrasi besar-besaran telah mengguncang Iran sejak akhir Desember, dan intensitasnya meningkat pada Januari. Pemicu utamanya adalah anjloknya nilai tukar rial terhadap dolar AS, yang semakin memperparah tekanan ekonomi yang sudah berat. Sebagai respons, pemerintah Iran memberlakukan pembatasan internet secara luas, termasuk pemutusan sementara jaringan nasional. Langkah ini diambil untuk membatasi komunikasi dan penyebaran konten terkait aksi protes.
Pembatasan tersebut tidak hanya memengaruhi aktivitas media sosial, tetapi juga berdampak langsung pada kegiatan ekonomi masyarakat sehari-hari. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang bergantung pada koneksi internet untuk bertahan.
Perbedaan Data Korban
Pemerintah Iran melaporkan bahwa 3.117 orang tewas selama gelombang protes berlangsung. Namun, angka ini berbeda jauh dengan perkiraan dari sejumlah organisasi hak asasi manusia, yang menaksir jumlah korban mencapai sekitar 7.000 orang. Perbedaan data ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pengamat internasional mengenai transparansi informasi di tengah krisis.
Teheran secara konsisten menuduh Amerika Serikat dan Israel berupaya memanfaatkan situasi ini. Tuduhan itu didasari oleh sanksi dan tekanan ekonomi yang disebut-sebut bertujuan memicu ketidakstabilan serta mendorong perubahan rezim di Iran.
Langkah Pemulihan dan Narasi Pemerintah
Perintah pemulihan akses internet oleh Presiden Pezeshkian dipandang sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menstabilkan kondisi domestik setelah berbulan-bulan dilanda ketegangan. Layanan internet di Iran sebelumnya mengalami perlambatan signifikan sejak awal Januari, termasuk pembatasan terhadap berbagai platform media sosial yang populer.
Meskipun akses mulai dipulihkan, pemerintah Iran tetap mempertahankan narasi bahwa kerusuhan yang terjadi dipengaruhi oleh campur tangan pihak asing. "Kami tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu keamanan negara," ujar seorang pejabat tinggi yang enggan disebutkan namanya, dalam sebuah pernyataan singkat. Langkah pemulihan ini, menurutnya, adalah bentuk kepercayaan pemerintah kepada rakyat, namun kewaspadaan tetap harus dijaga.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 6,9 Guncang Chili Utara, Tak Berpotensi Tsunami
SHINee Rayakan 18 Tahun Perjalanan Karier dengan Konser dan Album Spesial untuk Shawol
Calon Haji Karawang Meninggal di Makkah Diduga Akibat Serangan Jantung
Delapan dari Sepuluh Warga Kanada Nilai Amerika Serikat di Jalur yang Salah