PARADAPOS.COM - Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, menilai rangkaian kunjungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke berbagai daerah di Indonesia memiliki muatan elektoral yang kuat. Menurutnya, agenda blusukan yang dijadwalkan pada Juni 2026 ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan bagian dari strategi membesarkan nama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan memperkuat posisi putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, menjelang Pilpres 2029. Pandangan ini muncul di tengah pernyataan resmi Jokowi yang menyebut kegiatannya semata-mata untuk memenuhi undangan masyarakat dan memberi motivasi.
Jokowi sendiri, saat ditemui di kediamannya di Sumber, Banjarsari, Senin (25/5/2026), menegaskan bahwa kondisinya sudah pulih dan siap beraktivitas penuh. “Ya seperti ini kan, sudah. Memenuhi undangan-undangan di daerah berarti kan, udah. Ya, udah siap. Insyaallah udah siap,” ujarnya singkat. Ia juga mengakui akan bertemu dengan kader PSI dan relawan Projo di sejumlah titik kunjungan.
Blusukan atau Safari Politik? Ini Kata Pengamat
Yunarto Wijaya melihat agenda ini dari kacamata data dan realitas politik. Menurutnya, pernyataan-pernyataan yang keluar dari mantan gubernur DKI Jakarta itu belakangan ini sudah cukup menjadi indikator. “Pak Jokowi jelas menyatakan ada unsur PSI, PSI ini aktor elektoral yang nanti akan bertarung di 2029 dan kita tahu anaknya juga adalah Wakil Presiden. Pak Jokowi juga sudah mengeluarkan pernyataan yang sifatnya elektoral, mengarahkan kepada relawan mendukung Prabowo-Gibran jilid dua,” ungkapnya dalam sebuah diskusi yang dikutip dari YouTube CNN Indonesia, Rabu (27/5/2026).
Ia menambahkan, “Jadi itu maknanya elektoral, enggak bisa dibilang itu makna kebangsaan dan saya pikir Pak Jokowi, sepengenalan saya, adalah sosok yang sangat data driven ya, kalau sampai kemudian memutuskan blusukan kembali, saya pikir ada beberapa hal yang kemudian mungkin menjadi pendorong sebagai sebuah data.”
Dua Data yang Mendorong Keputusan Jokowi
Yunarto merinci setidaknya ada dua dorongan utama. Pertama, soal representasi politik keluarga. Menurutnya, Jokowi sadar bahwa Gibran dan Kaesang Pangarep belum cukup kuat menjadi simbol politik yang mandiri. “Gibran tidak cukup kuat menjadi simbol, Kaesang tidak cukup kuat menjadi simbol walaupun ketua umum PSI,” jelasnya. Karena itu, Jokowi merasa perlu turun langsung untuk membesarkan “merek” politik keluarganya.
Kedua, situasi ekonomi dan persepsi publik terhadap pemerintahan saat ini. Dalam dua bulan terakhir, kata Yunarto, ada sederet kontroversi kebijakan yang diikuti depresiasi rupiah dan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal ini membuat Jokowi harus mengambil posisi. “Di situ kemudian beliau harus mengambil positioning, apakah kemudian menjadi pihak yang bisa membantu mengklarifikasi berbagai macam kontroversi kebijakan pemerintahan ini atau jangan-jangan beliau bisa menikmati nih fenomena 'penak jamanku toh' atau 'lebih enak jamanku',” katanya.
Langkah ini, lanjut Yunarto, juga merupakan bentuk testing the water. Jokowi ingin mendengar langsung denyut napi rakyat. “Dan bagaimana kemudian beliau bisa mengambil positioning, entah dalam konteks kepentingan dari PSI ataupun dalam konteks kepentingan Gibran (untuk Pilpres 2029),” ucapnya.
Menaikkan Bridging Position Gibran
Yang tak kalah penting, menurut pengamat politik ini, adalah upaya untuk memperkuat posisi tawar Gibran di hadapan partai-partai koalisi. “Bukan tidak mungkin, ini upaya juga untuk menaikkan bridging position, menunjukkan beliau masih kuat, beliau juga mengetahui partai lain mungkin ingin jadi wapres Pak Prabowo, 2029 akan menjadi pesaing Gibran dan ini adalah upaya untuk kemudian menaikkan bridging position buat Mas Gibran sendiri,” paparnya.
Ia menekankan bahwa Jokowi sadar betul dirinya adalah aktor kunci di balik lahirnya pemerintahan Prabowo-Gibran. Maka, persepsi publik terhadap pemerintahan saat ini tidak bisa dilepaskan dari namanya.
Bantahan dari Relawan: Ini Murni Silaturahmi
Di sisi lain, Sekjen Relawan Pro Jokowi (Projo), Freddy Damanik, membantah keras tafsir elektoral tersebut. Ia menegaskan bahwa motivasi Jokowi sederhana: menyapa rakyat. “Pak Jokowi sudah gampang mengatakan, kepada kami waktu itu juga, untuk menyapa rakyat, menyapa masyarakat Indonesia. Karena kan semua publik tahulah Pak Jokowi ini seorang pemimpin yang sangat dekat dengan rakyat,” ucapnya dalam wawancara dengan YouTube Kompas TV, Selasa (26/5/2026).
Menurut Freddy, kebiasaan blusukan sudah mendarah daging dalam diri Jokowi sejak ia menjadi wali kota, gubernur, hingga presiden dua periode. “Jadi kalau dia turun kembali kepada rakyat, itu merupakan natural bagi dia (Jokowi). Jadi itu kebiasaan dari dari dulu, sudah puluhan tahun sejak dia wali kota, gubernur, dan presiden dua periode. Jadi sebetulnya enggak ada yang aneh di situ,” tegasnya.
Freddy juga menyebut bahwa agenda ini adalah bagian dari visi “keberlanjutan Indonesia maju”. “Keberlanjutan Indonesia maju itu apa? Jadi kami melihat bersama-sama Pak Jokowi ini tentu karena nilai-nilai yang dia miliki ya dan inilah yang akan kami usung terus,” ujarnya.
Soal Pilpres 2029: Masih Terlalu Dini
Mengenai spekulasi bahwa safari ini adalah batu loncatan untuk Gibran di 2029, Freddy enggan berkomentar banyak. “Kalau nanti misalnya, banyak sekali pertanyaan misalnya dari para pengamat mengatakan ini jelas untuk kontestasi Pilpres 2029 misalnya, ini jelas dengan Mas Gibran. Jadi kami enggak tabu bicara politik, tetapi kalau bicara kontestasi 2029, bagi kami itu masih terlalu dini,” tegasnya.
Namun, ia tidak menampik kemungkinan efek politik dari kunjungan-kunjungan tersebut. “Tetapi kalau nantinya misalnya ya, kunjungan-kunjungan atau modal sosial yang dimiliki oleh Pak Jokowi ini suatu saat misalnya di 2029, telunjuknya diarahkan kepada satu tokoh tertentu, ya Pak Jokowi memang seorang manusia politik,” jelasnya.
Jadwal dan Kondisi Kesehatan
Rencananya, Jokowi akan memulai safari pada Juni 2026. Sejumlah wilayah yang menjadi tujuan awal antara lain Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Barat. Selain bersilaturahmi, ia juga berencana memberikan motivasi kepada masyarakat. “Memberikan motivasi (rakyat) dan juga ketemu dengan PSI di daerah, plus juga ketemu dengan relawan di daerah. Ya karena ada undangan,” katanya.
Sebelumnya, kondisi kesehatan Jokowi sempat menjadi perhatian publik. Namun, ia memastikan dirinya sudah fit dan siap kembali beraktivitas penuh di lapangan.
Artikel Terkait
Jokowi Berubah Haluan: Dari Ingin Jadi Warga Biasa ke Siap Keliling Indonesia, Pengamat Sebut Isyarat Comeback Politik
Ketum Rampai Nusantara Bantah Jokowi Jadi Biang Kerok Kegagalan Partai, Sebut Sosoknya Justru Dongkrak Suara PDIP
Gatot Nurmantyo Sebut UUD 1945 Hasil Amandemen Dorong Oligarki dan Penguasaan SDA oleh Segelintir Kelompok
Kesalahan Sebut Nama Desa saat Kunjungan Presiden, Pengamat Sebut Indikasi Lemahnya Koordinasi Kabinet