CIA Diduga Persenjatai Kelompok Kurdi untuk Operasi di Iran

- Rabu, 04 Maret 2026 | 15:25 WIB
CIA Diduga Persenjatai Kelompok Kurdi untuk Operasi di Iran
Laporan: CIA Diduga Siapkan Pasukan Kurdi untuk Operasi di Iran

PARADAPOS.COM - Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dikabarkan tengah mempersenjatai kelompok milisi Kurdi untuk memicu pemberontakan di wilayah barat Iran. Rencana operasi darat yang disebut akan berlangsung dalam beberapa hari mendatang ini muncul di tengah eskalasi konflik terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, yang telah memasuki hari kelima. Laporan ini berdasarkan informasi dari pejabat Kurdi dan koresponden di lapangan, meski detail bentuk dukungan AS dan Israel masih belum jelas.

Percakapan dengan Pejabat Kurdi dan Laporan Intelijen

Informasi mengenai persiapan ini pertama kali diungkap oleh koresponden internasional utama CNN, Clarissa Ward. Ia mengaku mendapatkan informasi dari seorang pejabat senior Kurdi Iran yang terlibat dalam persiapan tersebut.

"Kami baru saja melakukan percakapan menarik dengan seorang pejabat senior Kurdi Iran yang mengatakan pasukan oposisi Kurdi Iran sedang mempersiapkan operasi darat di wilayah barat Iran dalam beberapa hari mendatang," ungkap Ward.

Dalam konfirmasinya, Ward menambahkan, "Mereka menunggu dukungan dari AS dan Israel sebagai bagian dari operasi ini, meski ia tidak memberikan rincian mengenai bentuk dukungan itu."

Peran CIA dan Telepon dari Gedung Putih

Lebih lanjut, Ward merujuk pada laporan dari rekan-rekannya di Washington yang menyelidiki aktivitas intelijen. Laporan tersebut menyebutkan keterlibatan langsung CIA dalam mengalirkan persenjataan.

"CIA bekerja untuk memasok senjata kepada pasukan Kurdi dengan tujuan mendorong pemberontakan rakyat di Iran," tegasnya.

Sebelumnya, disebutkan pula bahwa Presiden AS saat itu, Donald Trump, telah melakukan kontak telepon dengan pimpinan salah satu partai oposisi Kurdi Iran. Langkah ini semakin menguatkan indikasi adanya koordinasi tingkat tinggi, meski sifat dan isi pembicaraan tersebut tidak dijelaskan lebih detail.

Kompleksitas dan Risiko Geopolitik

Analisis terhadap rencana ini menyoroti tingkat risiko dan kerumitannya yang tinggi. Pasukan Kurdi Iran diketahui beroperasi dari basis mereka di wilayah Kurdistan Irak. Situasi ini menjadi rumit karena pemerintah regional Kurdi Irak sendiri berusaha menjaga netralitas dan tidak ingin terlibat dalam konflik antara Teheran dengan Washington.

"Hubungan mereka dengan Turki dan Iran menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan," lanjut Ward, menggarisbawahi dilema yang dihadapi oleh kelompok Kurdi yang terjepit di antara kepentingan berbagai kekuatan regional.

Latar Belakang Eskalasi yang Memanas

Persiapan pasukan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Konteksnya adalah periode eskalasi militer yang sangat panas di kawasan. Pemicu utamanya adalah serangan drone yang menghantam sebuah stasiun CIA di dalam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, yang diduga berasal dari Iran.

Serangan balasan Iran kemudian menyusul setelah meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada akhir pekan lalu. Teheran membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone tidak hanya ke Israel, tetapi juga ke sejumlah pangkalan dan aset kepentingan Amerika di negara-negara Teluk, memperluas arena konflik dan meningkatkan tensi secara signifikan.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar