Korban Ledakan Petasan di Ponorogo Meninggal Setelah Dirawat 4 Hari di ICU

- Kamis, 05 Maret 2026 | 12:25 WIB
Korban Ledakan Petasan di Ponorogo Meninggal Setelah Dirawat 4 Hari di ICU

PARADAPOS.COM - Seorang korban ledakan petasan di Ponorogo, Jawa Timur, akhirnya meninggal dunia setelah berjuang selama empat hari di rumah sakit. Peristiwa tragis yang melibatkan dua orang ini terjadi di Dukuh Cuwet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman. Korban yang meninggal mengalami luka bakar parah dan gangguan pernapasan serius, sementara korban lainnya telah dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang.

Perjuangan Empat Hari di Ruang ICU

Korban berinisial AFT menghembuskan napas terakhir pada Kamis (5/3) dini hari, tepat pukul 05.40 WIB, di RSUD dr. Harjono Ponorogo. Menurut Humas rumah sakit, Sugianto, kondisi AFT sejak awal memang sangat kritis. Luka bakar yang dideritanya mencapai sekitar 36 persen dari tubuhnya, dengan lokasi yang sangat berbahaya.

Sugianto menjelaskan bahwa ledakan tersebut menyebabkan trauma signifikan di area leher. "Luka di sekitar leher membuat pembuluh darah dan jalan napas terganggu hingga akhirnya pasien mengalami gagal napas," ungkapnya. Cedera inilah yang menjadi komplikasi utama dan memerlukan penanganan intensif segera.

Penanganan Medis Maksimal dan Tantangan yang Dihadapi

Tim medis telah melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan nyawa korban. Setelah menjalani pembersihan luka di ruang operasi, AFT langsung dirujuk ke Intensive Care Unit (ICU) karena membutuhkan pemantauan ketat. Selama empat hari perawatan, pasien bergantung sepenuhnya pada alat bantu napas untuk mempertahankan fungsi vitalnya.

Namun, upaya tersebut harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Selain luka bakar yang luas, risiko infeksi dari ledakan turut memperburuk kondisi AFT. Meski mendapat penanganan maksimal dari tenaga kesehatan, kondisi korban terus menurun secara perlahan.

"Selama empat hari di ICU pasien menggunakan alat bantu napas. Selain itu ada gangguan pada saluran pernapasan sehingga pasien harus mendapatkan penanganan intensif," jelas Sugianto, menggambarkan perjuangan medis yang dilakukan.

Koordinasi untuk Bantuan Biaya Perawatan

Di balik perjuangan medis, muncul pula tantangan non-klinis terkait pembiayaan. Tidak seluruh biaya perawatan yang tinggi dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Menyikapi hal ini, pihak rumah sakit turun tangan untuk mencari solusi agar beban keluarga korban dapat diringankan.

Sugianto menambahkan, "Rumah sakit menanggung sebagian biaya, kemudian kami juga berkoordinasi dengan Baznas dan pihak kelurahan untuk membantu solusi pembiayaan." Langkah ini menunjukkan upaya kolaboratif dari berbagai pihak dalam situasi yang sulit.

Korban Kedua Berangsur Pulih

Berbeda dengan nasib AFT, korban lain dalam insiden yang sama, berinisial HDA, menunjukkan perkembangan yang lebih baik. HDA yang mengalami luka bakar sekitar 16 persen telah menunjukkan pemulihan yang signifikan. Setelah kondisi kesehatannya dinilai memadai oleh dokter, HDA telah diperbolehkan untuk pulang dan melanjutkan pemulihan di rumah.

Kisah dua korban ini memberikan gambaran yang kontras tentang dampak ledakan petasan, mulai dari luka yang dapat disembuhkan hingga konsekuensi paling fatal. Peristiwa ini kembali menegaskan bahaya laten dari bahan peledak yang tidak dikelola dengan aman.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar