PARADAPOS.COM - Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menyatakan keyakinannya bahwa Presiden RI Prabowo Subianto memiliki kapasitas untuk menjadi mediator dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan ini disampaikan Bahlil di Jakarta, Jumat (6/3), sebagai respons terhadap keraguan sejumlah pihak terhadap kemampuan diplomasi Indonesia dalam isu tersebut.
Keyakinan Atas Kemampuan Diplomasi
Usai menghadiri acara Buka Puasa Bersama di kantor DPP Golkar, Bahlil menegaskan kepercayaan partainya terhadap kapabilitas Presiden. Ia memilih untuk tidak berpolemik dengan pihak yang meragukan, namun fokus pada optimisme yang dipegangnya.
"Insyaallah kami sangat yakin terhadap kemampuan beliau dalam melakukan komunikasi politik antar kepala-kepala negara di dunia," tuturnya.
Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang kerap mendampingi Presiden dalam kunjungan kerja ke luar negeri, Bahlil mengaku memahami langsung jejaring diplomasi Prabowo. Ia menyebutkan sejumlah negara yang pernah dikunjungi bersama, seperti Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Yordania, dan Uni Emirat Arab.
Hubungan Emosional dengan Pemimpin Dunia
Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa keyakinannya tidak hanya berdasar pada kunjungan formal, melainkan juga pada kedekatan personal yang diamatinya. Menurutnya, kemampuan membangun hubungan emosional dengan pemimpin negara lain adalah modal penting untuk menjadi penengah.
"Saya sangat, saya kenal dari dekat hubungan-hubungan emosional dari pemimpin-pemimpin negara ini dengan Bapak Presiden Prabowo," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Partai Golkar secara penuh memahami dan mempercayai kemampuan sang Presiden dalam peran diplomasi tingkat tinggi ini.
Keraguan dari Berbagai Pihak
Di sisi lain, wacana Indonesia sebagai mediator ini memang tidak lepas dari kritik dan keraguan. Sejumlah tokoh, termasuk mantan diplomat Dino Patti Djalal, memandang langkah tersebut kurang realistis. Argumen yang diajukan adalah kecilnya kemungkinan Presiden AS kala itu, Donald Trump, bersedia datang ke Teheran untuk berunding.
"Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi," ujarnya.
Pernyataan-pernyataan yang kontras ini menunjukkan kompleksitas posisi Indonesia di panggung global, di antara keyakinan akan kekuatan diplomasi dan pertimbangan realitas geopolitik yang keras. Peran mediator dalam konflik sebesar ini tentu membutuhkan lebih dari sekadar niat baik, melainkan juga kalkulasi strategis yang matang dan dukungan dari semua pihak yang bersengketa.
Artikel Terkait
SIM Keliling Hadir di Jakarta, Bekasi, Bogor, dan Bandung Hari Ini
Napoli Kalahkan Torino 2-1, Kokohkan Posisi di Papan Atas Serie A
Cadangan Devisa RI Turun Tipis, Tetap Cukup untuk 6 Bulan Impor
Mirae Asset Bantah Angka Rp14,5 Triliun Berkaitan dengan Aset Perusahaan