PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026), melanjutkan tekanan dari pekan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kewaspadaan pasar global dan mengancam stabilitas harga komoditas energi. Analis memprediksi mata uang domestik akan bergerak fluktuatif dengan bias melemah sepanjang hari.
Rupiah Tertekan di Awal Pekan
Data dari Bloomberg menunjukkan, pada pukul 10.00 WIB, rupiah tercatat melemah 55 poin atau 0,33 persen ke level Rp16.980 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya. Sumber data lain, Yahoo Finance, mencatat posisi serupa di Rp16.914 per USD. Pelemahan ini mengawali perdagangan di tengah sentimen global yang masih berawan.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan diwarnai volatilitas, namun tetap berakhir di zona merah. Ia memberikan proyeksi rentang perdagangan yang cukup luas, mencerminkan ketidakpastian yang tinggi di pasar.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.920 per USD hingga Rp16.960 per USD," ungkap Assuaibi. Ia menambahkan, "Pergerakan rupiah untuk minggu ini bergerak di level Rp16.850 per USD sampai Rp17.100 per USD."
Gejolak Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasar
Menurut penilaian pasar, tekanan utama terhadap rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya berasal dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Pertempuran yang melibatkan AS, Israel, dan Iran dalam sepekan terakhir telah meningkatkan risiko gangguan pada pasokan energi global, khususnya melalui jalur pelayaran vital di Teluk.
Ketegangan ini langsung berimbas pada pasar komoditas. Harga minyak dunia melanjutkan penguatannya, sebuah perkembangan yang memicu kekhawatiran baru akan gelombang inflasi. Lonjakan harga energi berpotensi mempersulit langkah bank sentral utama dunia, termasuk The Federal Reserve (The Fed) AS, yang sedang mempertimbangkan penurunan suku bunga.
"Hal ini telah mempersulit prospek bagi bank sentral global, termasuk Federal Reserve AS," jelas Ibrahim Assuaibi. Ia memaparkan, "Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat."
Di tengah kondisi ini, perhatian investor mulai bergeser ke data fundamental AS. Laporan pekerjaan non-pertanian (non-farm payrolls) yang akan dirilis akhir pekan ini dinilai mampu memberikan sinyal lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
"Angka yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat pandangan Federal Reserve memiliki ruang untuk menunda pemotongan suku bunga," urainya.
Prospek Perekonomian dan Tantangan Fiskal
Di sisi domestik, fundamental fiskal Indonesia mendapat sorotan. Pemerintah tengah berupaya meningkatkan rasio pajak (tax ratio) setelah lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan prospek (outlook) Indonesia dari stabil menjadi negatif. Salah satu pertimbangan utama adalah kinerja penerimaan pajak yang dinilai masih rendah.
Dalam dekade terakhir, tax ratio Indonesia konsisten berada di kisaran 9-10 persen terhadap PDB, bahkan mengalami penurunan pada 2025. Angka ini jauh di bawah rata-rata negara dengan peringkat kredit serupa. Menanggapi hal ini, pemerintah mendorong percepatan implementasi sistem administrasi perpajakan terpadu (Coretax) untuk memperluas basis dan meningkatkan kepatuhan.
Revisi prospek dari Fitch tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah. Pemerintah akan mengevaluasi dan memperbaiki arah kebijakan ke depan, terutama dalam memitigasi risiko dari sisi penerimaan negara yang dinilai lemah oleh Fitch.
Selain itu, beban belanja sosial juga menjadi catatan. Ibrahim Assuaibi menyebutkan, pemerintah menanggapi sorotan Fitch terhadap program bantuan sosial seperti MBG. "Selain itu, pemerintah menanggapi sorotan Fitch terhadap tingginya belanja sosial pemerintah, khususnya program MBG yang menelan porsi 1,3 persen terhadap PDB untuk periode 2025-2029, yang dinilai menjadi motor penggerak utama beban pengeluaran," ucapnya.
Artikel Terkait
Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Swasembada dan Kesiapan Logistik Lebaran
Tiga Tewas dalam Kecelakaan Pikap yang Angkut Warga Tilik Bayi di Kebumen
BPJPH Resmi Beri Sertifikasi Halal untuk Air PDAM Tirta Pakuan Bogor
Vivo Luncurkan V70 Series, Fokus pada Fotografi Portrait dengan Dua Pendekatan Berbeda