1,2 Ton Sampah Didominasi Popok Bayi dan Plastik Diangkut dari Sungai Ciliwung di Bogor

- Sabtu, 25 April 2026 | 07:50 WIB
1,2 Ton Sampah Didominasi Popok Bayi dan Plastik Diangkut dari Sungai Ciliwung di Bogor
PARADAPOS.COM - Sebanyak 1,2 ton sampah berhasil diangkut dari aliran Sungai Ciliwung di kawasan Kebun Raya Bogor dalam aksi bersih-bersih memperingati Hari Bumi, Sabtu (25/4/2026). Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyayangkan masih banyaknya warga yang membuang sampah ke sungai, mulai dari plastik, popok bayi, hingga bungkus mi instan. Ia mempertanyakan rasa cinta alam masyarakat yang dinilai belum sejalan dengan pendidikan formal maupun nonformal yang telah mereka tempuh.

Dominasi Sampah Plastik dan Popok Bayi

Dalam kegiatan yang digelar Pemerintah Kota Bogor bersama PT Mitra Natra Raya (MNR) itu, sampah terkumpul hanya dalam waktu dua jam kerja para relawan. Jenis yang paling mendominasi, menurut pengamatan di lapangan, adalah sampah plastik, popok bayi, styrofoam, serta bungkus kopi saset dan mi instan. "Saya pikir ini yang paling memprihatinkan itu popok bayi. Popok bayi itu banyak, yang pasti tidak terurai ya, karena ada gelnya," ujar Dedie di Kebun Raya Bogor, Sabtu. Ia menambahkan, temuan sampah rumah tangga seperti itu menunjukkan kebiasaan buruk yang masih mengakar di sebagian masyarakat. Padahal, alam telah memberikan banyak nilai kehidupan yang seharusnya dibalas dengan kepedulian.

Kesadaran yang Belum Terbentuk

Dedie mengakui bahwa hampir semua warga telah mengenyam pendidikan, baik formal maupun keagamaan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ilmu tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. "Sekarang kita semuanya sekolah, semuanya ngaji, semuanya sholat, semuanya punya orang tua, semuanya sayang sama sesama," katanya dengan nada prihatin. "Mestinya secara alamiah rasa kecintaan kita, rasa kepedulian kita juga ditunjukkan bukan hanya kepada teman kita, bukan hanya kepada tetangga, tapi kan alam juga sudah memberikan banyak sekali nilai-nilai kehidupan buat kita," lanjutnya. Menurutnya, membuang sampah ke sungai adalah bentuk menzalimi alam. Ia mengaku sedih karena masih terlalu banyak orang yang belum memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan.

Solusi dari Rumah Tangga

Pemerintah kota tidak tinggal diam. Dedie mengimbau masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah masing-masing. Sampah organik dan anorganik, kata dia, harus dipisahkan sejak awal. "Kemudian kita bikin biopori di masing-masing rumah. Tiga bulan sekali kita ambil dan kalau yang plastik mungkin bisa dijual, ditumpuk," jelasnya. Ia menekankan bahwa sampah yang sudah dipilah masih memiliki nilai ekonomis. Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk, sementara kertas dan karton bisa ditumpuk untuk dijual ke pengepul. "Kemudian yang karton, yang kertas bisa ditumpuk, bisa dijual. Masih ada harganya. Jadi memang kita harus intens terus ya, enggak bisa patah semangat," imbuhnya. Dengan pendekatan yang konsisten dan edukasi berkelanjutan, Dedie berharap kebiasaan membuang sampah sembarangan perlahan bisa diubah. Namun, ia mengakui bahwa perubahan ini membutuhkan waktu dan kesabaran dari semua pihak.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar