PARADAPOS.COM - Hingga saat ini, hanya dua nama yang dinilai memiliki ideologi kuat sebagai Presiden Republik Indonesia: Soekarno dan Prabowo Subianto. Pernyataan kontroversial ini disampaikan oleh pengamat ekonomi-politik Syahganda Nainggolan dalam peluncuran bukunya, "Menggugat Republik", di Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (5/3/2026). Acara yang bertema "Prabowonomics, Demokrasi dan Arah Republik ke Depan" itu dihadiri sejumlah tokoh nasional dan diakhiri dengan buka puasa bersama.
Pandangan Terhadap Dua Tokoh Bangsa
Dalam paparannya, Syahganda membandingkan keteguhan ideologi kedua tokoh tersebut. Ia melihat bahwa nasionalisme Soekarno pada masa mudanya berbeda dengan sikapnya di usia tua, yang dinilainya lebih pragmatis. Sebaliknya, Prabowo Subianto dinilainya tetap konsisten mempertahankan ideologi yang kuat hingga menginjak usia 75 tahun. Analisis perbandingan ini menjadi salah satu pokok bahasan dalam buku yang sebagian ditulisnya selama berada di penjara.
Kilas Balik Perjalanan Aktivisme
Momentum peluncuran buku juga menjadi kesempatan bagi Syahganda untuk merefleksikan perjalanan panjang aktivisme yang dilakoninya. Semangat untuk memperjuangkan kepentingan bangsa, tuturnya, telah tertanam sejak ia aktif di gerakan mahasiswa ITB. Menurut pengamatannya, gerakan mahasiswa pada era itu dikenal berani menyuarakan kebenaran meski kerap menghadapi berbagai bentuk tekanan.
Ia juga mengingat keterlibatan aktivis dari berbagai kampus, seperti Universitas Padjadjaran, dalam membangun gerakan sosial yang lebih luas, termasuk gerakan buruh dan gerakan rakyat.
“Perjuangan tersebut masih relevan hingga saat ini,” ungkapnya.
Dihadiri Tokoh Nasional dan Publik Figur
Seminar dan peluncuran buku tersebut menarik perhatian kalangan elite politik dan publik. Hadir dalam kesempatan itu Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, serta Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Dari dunia pergerakan, hadir Ketua Umum KSPSI Moh Jumhur Hidayat.
Dunia akademik dan politik diwakili oleh pengamat Rocky Gerung, anggota Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi XI DPR Muhammad Misbakhun, dan Rektor ITB Tatacipta Dirgantara. Kehadiran selebritas Raffi Ahmad juga menambah sorotan pada acara tersebut.
Harapan untuk Kontribusi Figur Publik
Syahganda lantas menyoroti berbagai tantangan pemerintahan saat ini, mulai dari kondisi ekonomi riil masyarakat, penciptaan lapangan kerja, hingga efektivitas program sosial. Dalam konteks menyikapi tantangan itu, ia menyampaikan apresiasi khusus terhadap pengaruh besar yang dimiliki figur seperti Raffi Ahmad di media sosial.
Dengan jangkauan puluhan juta pengikut, ia berharap para publik figur dapat turut berkontribusi dalam menyebarluaskan gagasan-gagasan kebangsaan yang konstruktif kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Artikel Terkait
Peneliti Kritik KPK: Tangani Kasus Bupati Pekalongan, Tapi Abaikan Dugaan Keluarga Presiden?
Analis Kritik Langkah Politik Jokowi Pasca-Jabatan, Sebut Belum Pensiun dari Kekuasaan
Din Syamsuddin Kritik Keikutsertaan Indonesia dalam Forum Perdamaian Donald Trump
Analis Nilai Protes PDIP Soal Anggaran Makan Bergizi Gratis Ditunggangi Agenda Politik 2029