PARADAPOS.COM - Serangan gabungan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Teheran pada Sabtu (28/02) memicu reaksi keras dari Moskow. Hanya dalam hitungan jam, perwakilan Rusia di PBB mengecam aksi tersebut sebagai agresi bersenjata. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah mengapa Rusia, sebagai sekutu utama Iran, tidak turun tangan secara langsung untuk membantu pertahanan negara tersebut. Analisis dari sejumlah pakar hubungan internasional dan keamanan mengungkap kompleksitas kemitraan kedua negara, yang lebih didasari pada kepentingan strategis pragmatis daripada ikatan ideologis.
Landasan Pragmatis Kemitraan Rusia-Iran
Kerja sama antara Moskow dan Teheran terbangun di atas fondasi kepentingan ekonomi dan keamanan yang saling menguntungkan, terutama pasca invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Salah satu proyek vital adalah Koridor Transportasi Utara-Selatan sepanjang 7.200 kilometer, yang menghubungkan Rusia dengan India melalui Iran dan Azerbaijan. Menurut lembaga kajian Gulf Research Center, sekitar 75% proyek ambisius ini telah rampung.
Di bidang militer, Iran telah menjadi pemasok penting, terutama drone kamikaze Shahed yang telah digunakan secara luas di medan perang Ukraina. Meski produksinya kini banyak dilokalisasi di Rusia, kontribusi awal Teheran dinilai signifikan.
Namun, para pengamat menekankan bahwa hubungan ini bersifat transaksional. Nikita Smagin, seorang peneliti Rusia dan Timur Tengah, menjelaskan bahwa politik Rusia tidak dilandasi kesukaan khusus terhadap Iran.
"Politikus Rusia tidak secara khusus menyukai Iran, tetapi mereka memandangnya sebagai mitra strategis yang dapat diandalkan karena kedua negara sama-sama berada di bawah sanksi internasional. Ini berbeda dengan Turki atau Mesir yang bisa saja menghentikan perdagangan dengan Rusia jika ditekan Barat," jelasnya.
Gregoire Roos dari Chatham House di London bahkan melihat Iran dalam beberapa hal menjadi mentor bagi Rusia dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
Batasan Dukungan dan Perhitungan Teheran
Terlepas dari kedekatan tersebut, para analis sepakat bahwa kemungkinan intervensi militer aktif Rusia dalam konflik antara Iran dengan AS dan Israel sangatlah kecil. Julian Waller, analis dari Center for Naval Analyses (CNA), menegaskan bahwa tidak ada pakta pertahanan formal yang mengikat kedua negara.
Beberapa pakar menduga adanya kesepakatan informal non-agresi antara Rusia dan Israel yang turut mempengaruhi sikap Moskow. Situasi ini, menurut Mojtaba Hashemi, seorang pakar hubungan internasional, menimbulkan kekecewaan di Teheran yang mengharapkan dukungan yang lebih nyata.
"Termasuk kerja sama teknis militer yang diperluas, berbagi intelijen, dan pengiriman pesan penangkal yang jelas kepada musuh, bukan sekadar dukungan verbal," ujar Hashemi. Ia menilai rezim Iran keliru dalam perhitungannya.
Namun, Mohammad Ghaedi dari George Washington University berpendapat bahwa sikap Rusia ini mungkin tidak sepenuhnya mengejutkan para elite Iran, mengingat sejarah panjang hubungan yang diwarnai sikap saling curiga.
Analisis Untung Rugi Bagi Kepentingan Rusia
Konflik yang berkepanjangan di Iran ternyata membawa beberapa keuntungan strategis tidak langsung bagi Kremlin. Pertama, perhatian media dan diplomatik global akan bergeser dari Ukraina ke Timur Tengah, meringankan tekanan terhadap Rusia. Kedua, gangguan pasokan energi akibat penutupan sebagian Selat Hormuz dapat mendongkrak harga minyak dan gas dunia.
"Jika harga minyak dan gas tetap tinggi selama berbulan-bulan atau bahkan setahun, itu akan sangat menguntungkan Rusia sebagai eksportir minyak dan gas," kata Waller. Ia menambahkan, Kremlin dapat menurunkan pajak domestik yang sebelumnya digunakan untuk membiayai perang.
Namun, sisi negatifnya adalah potensi keruntuhan rezim Iran saat ini, yang akan menjadi pukulan telak bagi pengaruh geopolitik Rusia. Moskow, bersama Beijing, telah membangun poros tandingan terhadap tatanan dunia yang dipimpin Barat, dengan Iran sebagai pilar penting di Timur Tengah.
Prospek Hubungan Kedua Negara ke Depan
Minimnya dukungan militer langsung Rusia berpotensi menimbulkan retakan dalam hubungan bilateral. Hashemi memprediksi bahwa Moskow dan Beijing mungkin akan lebih memilih bernegosiasi dengan pemerintahan baru di Iran daripada mempertaruhkan sumber daya untuk mendukung struktur yang rapuh.
"Rusia dan China pada dasarnya menggunakan Iran sebagai kartu tawar geopolitik terhadap Barat. Jika rezim saat ini semakin melemah, Rusia kemungkinan akan mencari jaminan dari pemerintahan Iran berikutnya ketimbang berinvestasi pada struktur yang runtuh," ujarnya.
Di sisi lain, Ghaedi berargumen bahwa Teheran kemungkinan akan tetap mempertahankan kemitraan ini. Dalam kondisi terisolasi secara internasional, dukungan diplomatik Rusia di forum seperti Dewan Keamanan PBB, termasuk hak vetonya, masih dianggap terlalu berharga untuk diabaikan oleh rezim Iran. Dinamika ini menunjukkan bahwa aliansi strategis sering kali lebih ditentukan oleh kalkulasi realpolitik yang dingin daripada kesetiaan atau solidaritas.
Artikel Terkait
Iran Serang Target AS dan Israel dengan Drone Murah Shahed-136, Jaringan Pasokan Sampai ke Indonesia
Kim Jong-un Tawarkan Rudal ke Iran dan Ancam Israel Usai Serangan AS
Mantan Presiden Iran Ahmadinejad Selamat, Tiga Pengawalnya Gugur dalam Serangan
CIA Diduga Persenjatai Kelompok Kurdi untuk Operasi di Iran