Senator AS Ungkap Motif Ekonomi di Balik Konflik dengan Iran

- Senin, 09 Maret 2026 | 13:50 WIB
Senator AS Ungkap Motif Ekonomi di Balik Konflik dengan Iran

PARADAPOS.COM - Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang dimulai pada akhir Februari, dinilai oleh seorang senator AS senior memiliki motif ekonomi yang kuat di balik narasi non-proliferasi nuklir. Lindsey Graham, senator dari Partai Republik, secara terbuka menyatakan bahwa penggulingan rezim di Teheran akan membuka akses AS terhadap cadangan minyak Iran yang sangat besar, mendominasi pasar energi global, dan meraup keuntungan finansial yang signifikan. Pernyataan ini mencuat di tengah gejolak harga minyak dunia yang telah menembus level psikologis 100 dolar AS per barel.

Pernyataan Senator dan Ambisi Energi

Di tengah memanasnya situasi, komentar Senator Lindsey Graham kepada Fox News pada awal Maret 2026 menyoroti dimensi lain dari konflik yang kerap luput dari pemberitaan utama. Alih-alih hanya fokus pada isu keamanan nuklir, Graham justru menekankan keuntungan ekonomi strategis yang bisa diraih Washington. Dalam wawancara tersebut, ia menggambarkan operasi militer sebagai sebuah investasi yang menguntungkan, dengan imbalan berupa kendali atas sumber daya energi.

"Ketika rezim ini jatuh, kita akan memiliki Timur Tengah yang baru, kita akan menghasilkan banyak uang. Tidak ada yang akan mengancam Selat Hormuz lagi," ujarnya. Graham menambahkan bahwa AS berencana memasang pemerintahan yang "ramah" di Teheran pasca-konflik.

Ia kemudian memperluas cakupan ambisi tersebut. “Venezuela dan Iran memiliki 31% cadangan minyak dunia. Kita akan menjalin kemitraan dengan 31% cadangan yang diketahui. Ini adalah mimpi buruk bagi China. Ini adalah investasi yang baik,” lanjut senator tersebut.

Konteks Operasi dan Reaksi Pasar

Pernyataan Graham muncul dalam konteks operasi militer yang telah berlangsung sejak 28 Februari. Presiden AS kala itu, Donald Trump, dikabarkan menilai lonjakan harga minyak sebagai dampak yang "sangat kecil" dari perang. Sementara itu, Iran secara konsisten membantah klaim AS mengenai pengembangan senjata nuklir dan mengecam serangan sebagai aksi agresi tanpa dasar. Pemerintah Teheran bersikeras tidak akan menyerah pada tuntutan tanpa syarat dari Washington.

Reaksi Iran di lapangan cukup konkret. Sebagai balasan, militer Iran diketahui telah menutup akses melalui Selat Hormuz—jalur vital bagi transportasi minyak global—dan menyerang beberapa kapal tanker yang berusaha melintas. Mereka juga melancarkan serangan balik terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan Teluk. Langkah-langkah ini memicu gangguan signifikan dalam pasokan energi dunia.

Gangguan itu langsung terrefleksi di pasar komoditas. Menurut pantauan CNBC Internasional, harga minyak mentah sempat melonjak tajam hingga melewati 110 dolar AS per barel pada Senin pagi berikutnya. Lonjakan ini turut dipicu oleh pengumuman beberapa produsen energi Timur Tengah yang berencana memangkas produksi mereka, memperburuk ketegangan pasokan.

Pola yang Berulang di Venezuela

Ambisi kontrol energi AS ini, seperti diungkapkan Graham, bukanlah hal baru dan tampaknya mengikuti pola yang sedang diterapkan di belahan dunia lain. Washington disebut-sebut juga sedang berupaya mengambil kendali atas sektor minyak Venezuela. Upaya ini mengemuka setelah operasi komando AS yang menangkap Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari.

Pengakuan resmi dari pemerintahan Trump terhadap penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, yang terbuka untuk kerja sama dengan AS, semakin menguatkan analisis mengenai pola pendekatan yang serupa. Kedua kasus ini, Iran dan Venezuela, menunjukkan kompleksitas konflik yang melampaui isu politik dan menyentuh inti persaingan geopolitik atas sumber daya alam strategis.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar