Krisis BBM Melanda Hanoi, Vietnam Respons Ketegangan di Timur Tengah

- Rabu, 11 Maret 2026 | 14:25 WIB
Krisis BBM Melanda Hanoi, Vietnam Respons Ketegangan di Timur Tengah

PARADAPOS.COM - Kekhawatiran atas krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) telah memicu antrean panjang dan panic buying di sejumlah SPBU di Hanoi, Vietnam. Situasi ini muncul sebagai dampak tidak langsung dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang mengancam jalur distribusi minyak global dan mendorong lonjakan harga komoditas energi.

Ancaman Gangguan Pasokan dari Selat Hormuz

Ketegangan di kawasan Teluk Persia semakin memanas setelah Garda Revolusi Iran, atau Islamic Revolutionary Guard Corps, mengeluarkan larangan ekspor minyak ke negara-negara mitra Amerika Serikat dan Israel. Kebijakan ini diberlakukan sebagai bagian dari konflik yang sedang berlangsung. Sejak akhir Februari lalu, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz—jalur laut vital bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah—dilaporkan mengalami gangguan. Ancaman untuk sepenuhnya menutup ekspor minyak melalui selat tersebut semakin menambah ketidakpastian di pasar energi dunia.

Dampak Langsung Terhadap Vietnam

Gelombang efeknya pun sampai ke Asia Tenggara. Di Hanoi, ibu kota Vietnam, masyarakat berbondong-bondong memenuhi SPBU untuk mengisi tangki kendaraan mereka. Antrean kendaraan bermotor yang panjang terlihat di berbagai lokasi, sementara beberapa pom bensin terpaksa menutup operasi karena stok bahan bakar telah habis. Kenaikan harga BBM yang signifikan dalam beberapa hari terakhir memperparah situasi, dengan harga per liternya mencapai sekitar 29.120 dong Vietnam.

Merespons kelangkaan ini, setidaknya tujuh stasiun pengisian di Hanoi telah memberlakukan pembatasan penjualan. Pemerintah Vietnam pun mengambil langkah cepat untuk menangani krisis ini.

Langkah Darurat Pemerintah Vietnam

Dalam upaya mengamankan pasokan, Perdana Menteri Phạm Minh Chính telah melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah pemimpin negara penghasil minyak di Timur Tengah.

"Kami telah menghubungi rekan-rekan di Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk mengamankan tambahan pasokan bahan bakar dan minyak mentah," ungkapnya, seperti dilansir dari Associated Press Television News.

Selain upaya diplomatik itu, pemerintah juga mengimbau perusahaan-perusahaan untuk mempertimbangkan kebijakan kerja dari rumah bagi karyawannya. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi mobilitas masyarakat dan membantu menghemat konsumsi BBM nasional sambil menunggu stabilisasi pasokan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar